INFO KARIMUNJAWA

[Info Karimunjawa][bleft]

PAKET KARIMUNJAWA

[Paket Karimunjawa][bsummary]

OPENTRIP

[Open Trip][bleft]

Info Wisata Kuliner Di Jepara

Info makanan khas dan kuliner Jepara. Berburu wisata kuliner di Jepara sangat menyenangkan karena meski kota kecil namun kami memiliki koleksi kuliner yang lengkap. Mulai dari makanan khas Jepara sampai makanan yang berasal dari luar Jepara. Bahkan mencari makanan dengan citarasa asli Eropa pun mudah di dapat di jepara karena banyak pendatang dari seluruh dunia menetap di Jepara demi mengeksplore potensi utama Jepara, yaitu furniture dan handycraft.

Serbuan restoran barat namun bercitarasa nusantara memang banyak, namun ada juga restoran yang benar-benar bercitarasa barat sehingga bisa menjadi wisata kuliner bagi pendatang manca negara. Beberapa restoran nusantara yang wajib ada seperti restoran padang maupun warteg pun bertebaran di sepanjang jalan. Bagi pecinta kuliner asli Jepara, sayang sekali hanya ada di warung-warung kecil namun tetap sangat terkenal dan padat pengunjung. Seperti warung Pindang Srani di dekat terminal Jepara yang bahkan melayani pesanan dari luar daerah. Tak kurang, kemashurannya sampai pada para penguji dari Jakarta ketika Susi ikut tes Prospek Mandiri secara khusus memesan untuk dibawa pulang ke Jakarta. Pindang Srani adalah pindang atau sup ikan kerapu berwarna kuning yang sangat khas karena sangat berbumbu. Semua bumbu dapur dipakai kecuali temu kunci dan ketumbar-jintan. Paling sedap jika dimasak pedas dengan merica yang banyak

Alternatif kedua adalah hang out di lokasi parkiran SCJ atau Shopping Center Jepara untuk berburu wisata kuliner khas Jepara yang murah meriah. Saran utama dan yang hanya ada di Jepara adalah wedang Adon-Adon Coro yang menghangatkan badan serta es Gempol Pleret. Wedang Adon-Adon Coro sangat unik karena lagi-lagi mengandalkan bumbu rahasia. Sejauh ini yang Susi ketahui, bahan yang digunakan adalah jahe, santan, pandan, cengkeh, serai, gula merah. Ada satu bahan taburan yang menambah wedang pedas ini menjadi lebih pedas lagi namun sayang Susi tidak tahu apa itu. Sejauh ini para peniru cukup puas dengan bahan-bahan yang Susi sebutkan tadi. 
Es gempol pleret pun sangat khas Jepara. Berupa es bersantan dengan nasi dibentuk bulat seperti bakso bersama plered atau pleret. Pleret sangat unik karena berupa campuran tepung-air dibentuk seperti bunga tulip namun dibelah satu di pinggir. warna dominannya merah. Ketika dijadikan satu di mangkuk dan diminum. Hmm.... segarrr.
Belum puas? Masih ada Kacang listrik, Horog-horog, serta durian Petruk yang terkenal. Kacang listrik sebenarnya seperti kacang oven yang kita kenal namun ada satu proses pengeringan lagi yang spesial hingga citarasanya tetap tidak biasa. 
Horog-horog adalah makanan dari tepung pati yang dimasak selama 10 jam dengan cara khusus. Tepung pati yang dikukus dalam keadaan kering sehingga menjadi gumpalan-gumpalan kecil. Prosesnya sangat lama dan berkali-kali naik turun pengukusan kemudian diproses dan dikukus lagi. Horog-horog sangat gurih dan cocok dimakan bersama makanan apa saja. Horog-horog bakso sangat lezat, es kolak horog-horog tak kalah segar, dimakan bersama sate pun super lezat. Salah satu favorit Susi dan menu wajib adalah horog-horog sate kikil. Sate ini hanya Susi temukan di Jepara dan kekhasannya menggunakan bumbu dari blondo, yaitu sisa pembuatan minyak kelapa. Gurih sekali dan wangi. Hmm... tapi herannya tidak termasuk daftar kuliner khas Jepara.

Nah, pulangnya jangan lupa mampir ke pasar durian di Ngabul. Jika melewati jalan penghubung utama Jepara dan menemukan patung durian, Anda tidak salah. Itulah pusatnya. Namun jika ingin membeli durian Petruk, desa Kecapi lah sebenarnya pusatnya. Jadi pembeli langsung ke petani durian. Biasanya sih durian sudah dipesan ketika masih di atas pohon dan ketika jatuh si pemilik akan menelpon pemesannya. Durian ini harganya jauh lebih mahal. Kurang lebih setara dengan durian Montong. Citarasanya sangat legit, pahit, manis, panas sekali, dan jarang sekali ada satu orang yang bisa menghabiskan satu buah karena kebanyakan telah mabuk.